Trauma Gempa Masih Membekas, Warga Batang Dua Bertahan di Pengungsian
Ternate – Sepuluh hari setelah gempa bumi magnitudo 7,6 mengguncang Maluku Utara pada 2 April 2026, luka dan trauma masih terasa kuat di Pulau Mayau, Batang Dua, Kota Ternate. Di tengah ancaman gempa susulan yang terus terjadi, ratusan warga memilih bertahan di pos pengungsian yang berada di kawasan lebih tinggi dan dianggap aman.
Bagi mereka, pulang ke rumah bukan perkara mudah. Selain rasa takut, sebagian besar rumah mengalami kerusakan. Sekitar 200 rumah dan 2.349 warga dilaporkan berada di 30 titik pengungsian.
Di bawah tenda sederhana dekat SMA Negeri 11 Batang Dua, Albensa Tapodi duduk di atas tikar bersama keluarganya. Di sanalah ia dan warga lain mencoba melanjutkan hidup, meski dalam keterbatasan.
Dengan suara bergetar, Albensa mengenang detik-detik saat gempa pertama mengguncang. Menurutnya, air laut sempat surut mendadak sebelum kembali naik, memicu kepanikan besar di kampung mereka.
“Pas gempa pertama itu, air lagi kering, tiba-tiba naik. Naik itu langsung orang-orang lari. Sudah tidak baku dapat orang tua, anak, semua lari ke hutan,” ujarnya lirih, saat ditemui reporter rri.co.id.
Dalam kekacauan itu, keluarga tercerai-berai. Orang tua mencari anak, anak mencari orang tua. Semua berlari ke tempat tinggi tanpa sempat membawa banyak barang.
Sejak saat itu, Albensa dan warga lain belum berani kembali. Mereka bertahan di pengungsian dengan tenda seadanya. Saat hujan turun, terpal yang sudah robek tak lagi mampu menahan air.
“Kalau malam hujan, ibu-ibu dengan anak-anak cuma duduk. Anak-anak dipeluk pakai badan, tapi tetap basah setengah,” katanya sambil menahan tangis.
Kondisi pengungsian pun masih jauh dari layak. Banyak warga tidur di atas tanah dengan alas tikar. Selimut, tenda tambahan, dan kebutuhan dasar lainnya masih sangat dibutuhkan.
Korlap Pos Pengungsian SMA Negeri 11 Batang Dua, Robinson Arnyanyi, mengatakan warga sebenarnya ingin pulang, namun ketakutan akibat gempa susulan masih sangat besar.
Menurut Robinson, kekhawatiran warga akan berkurang jika ada penjelasan resmi mengenai situasi gempa dan potensi susulan, sehingga masyarakat merasa lebih tenang.
“Gempa susulan masih sering terjadi. Itu yang bikin masyarakat trauma untuk turun ke rumah masing-masing,” ujarnya.
Di tengah situasi sulit itu, warga mengaku bersyukur atas perhatian pemerintah. Kunjungan Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda, Wakil Gubernur, serta unsur Forkopimda yang datang membawa bantuan menjadi penguat moral bagi para penyintas.
Meski bantuan mulai berdatangan, bagi warga Batang Dua yang paling dibutuhkan saat ini bukan hanya logistik, tetapi rasa aman agar mereka bisa kembali pulang dan memulai hidup dari puing-puing yang tersisa.
Sumber: RRI Ternate



Tinggalkan Balasan