Ternate – Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda Laos, membagikan kisah personal tentang perjalanan hidup keluarganya saat menghadiri Pertemuan Saudagar Bugis Makassar ke-26 di Makassar. Forum tersebut mempertemukan kalangan pengusaha dan pemerintah daerah, serta dihadiri Menteri Pertanian RI Amran Sulaiman dan Menteri Agama RI.

Dalam kesempatan itu, Sherly menuturkan bahwa ayahnya lahir dan besar di Makassar dengan latar belakang kehidupan sederhana. Ia mengisahkan bagaimana ayahnya harus berhemat, bahkan untuk sekadar menikmati makanan khas setempat.

“Papa saya lahir di Makassar, sekolah di Makassar, besar di Makassar. Dulu cerita kalau mau makan nyuknyang itu belinya cuma satu mangkuk, tiga butir nyuknyang, kuahnya yang banyak, nasinya dua piring, karena katanya duitnya nggak ada,” kata Sherly.

Menurut dia, pengalaman masa kecil ayahnya itu menjadi motivasi kuat dalam perjalanan hidup. Setiap kembali ke Makassar, ayahnya disebut selalu menyempatkan diri menikmati makanan tersebut sebagai bentuk “balas dendam” atas keterbatasan di masa lalu.

Sherly menjelaskan, ayahnya memulai usaha dari bawah. Berbekal pendidikan teknik, ia membangun bengkel, kemudian merintis usaha pembuatan kapal.

Usaha tersebut berkembang dari hanya memiliki satu kapal hingga puluhan kapal, disertai pengembangan fasilitas cold storage yang kemudian menembus pasar ekspor.

“Dari situ saya belajar, bahwa untuk sukses dalam hidup kita harus bermanfaat bagi orang lain,” ujarnya.

Ia mengakui tidak memulai hidup dari nol seperti ayahnya. Namun, nilai-nilai yang diwariskan tetap menjadi pegangan, terutama pentingnya integritas, menjaga nama baik, dan membangun jejaring.

Sherly juga menyoroti peran jejaring dan kolaborasi dalam mendorong pembangunan daerah. Ia mencontohkan bagaimana sinergi antarpihak dapat membuka peluang besar, termasuk dalam pengembangan sektor pertanian.

Networking adalah segalanya. Bukti hari ini para gubernur bisa mendapat ekstra lahan hingga 10 ribu hektare itu berkat networking dan kolaborasi,” kata dia.

Dalam forum tersebut, ia turut menekankan makna ketangguhan dalam dunia usaha. Menurut Sherly, tangguh bukan berarti tidak pernah mengalami kegagalan, melainkan kemampuan untuk bangkit dan beradaptasi.

“Pedagang tangguh itu bukan yang tidak pernah jatuh, tapi ketika jatuh bisa bangkit lagi, adaptif, dan lincah,” ujarnya.

Ia juga menyebut sosok Menteri Pertanian sebagai contoh figur yang berhasil meniti karier dari bawah hingga mencapai posisi saat ini.

Pertemuan Saudagar Bugis Makassar sendiri menjadi ajang tahunan yang mempertemukan pelaku usaha dengan pemerintah untuk memperkuat kolaborasi ekonomi, khususnya di kawasan Indonesia Timur.


Sumber: TernateHits