Gempa Maluku Utara Akademisi Tekankan Konstruksi Tahan Guncangan
Ternate – Gempa bumi berkekuatan besar yang terjadi di wilayah Maluku Utara menjadi perhatian serius berbagai pihak. Akademisi teknik menilai karakter gempa di wilayah ini dipengaruhi oleh pergerakan tiga lempeng utama, yakni Pasifik, Eurasia, dan Filipina.
Pusat gempa yang berada di sekitar Pulau Mayau menunjukkan indikasi gempa dangkal. Kondisi ini membuat energi yang dihasilkan cenderung besar dan berpotensi merusak, terutama di wilayah pemukiman.
Narasumber Ternate siang, Suyuti menyampaikan gempa dangkal memiliki daya rambat yang kuat hingga ke permukaan. Hal ini menyebabkan dampak kerusakan lebih signifikan, seperti yang dirasakan di wilayah Batang Dua, Selasa , 7 April 2026.
Ia menjelaskan, guncangan gempa dipengaruhi oleh percepatan permukaan tanah atau ground motion. Semakin tinggi bangunan dan semakin berat materialnya, maka semakin besar pula energi hantaman yang diterima.
Karena itu, masyarakat disarankan menggunakan material bangunan yang lebih ringan. Salah satu inovasi yang bisa diterapkan adalah penggunaan batu bata berongga atau material ringan lainnya untuk mengurangi risiko runtuh.
Dalam konsep bangunan tahan gempa, struktur harus dirancang agar tidak roboh meski mengalami keretakan. Prinsip yang digunakan adalah kolom harus tetap kuat, sementara balok diperbolehkan mengalami kerusakan untuk meredam energi.
“Bangunan tahan gempa bukan berarti tidak retak, tetapi tidak boleh runtuh agar penghuni bisa menyelamatkan diri,” jelasnya.
Selain aspek teknis, masyarakat juga diimbau untuk meningkatkan kesiapsiagaan. Edukasi mengenai gempa dan potensi tsunami dinilai penting, mengingat fenomena seperti air laut surut sebelum gelombang besar masih sering disalahartikan.
Di sisi lain, potensi material lokal di Maluku Utara dinilai sangat besar untuk mendukung sektor konstruksi. Limbah tambang seperti nikel dan emas bahkan dapat dimanfaatkan sebagai bahan alternatif dalam pembangunan, seperti campuran perkerasan jalan.
Akademisi menyebut, kolaborasi antara pemerintah, kampus, dan industri menjadi kunci pengembangan inovasi tersebut. Konsep pentahelix hingga octahelix diharapkan mampu memperkuat sinergi lintas sektor.
Pemerintah daerah juga didorong untuk menyusun regulasi teknis pembangunan rumah tahan gempa. Aturan tersebut penting agar masyarakat tidak lagi membangun rumah tanpa standar konstruksi yang aman.
Selain itu, edukasi publik melalui media dinilai memiliki peran besar dalam meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap risiko bencana. Informasi yang masif diharapkan mampu mengubah pola pikir masyarakat dalam membangun hunian.
Di tengah kondisi geografis yang rawan gempa, upaya mitigasi harus dilakukan secara berkelanjutan. Baik melalui inovasi teknologi, pemanfaatan material lokal, maupun peningkatan kesadaran masyarakat.
Dengan langkah tersebut, diharapkan pembangunan di Maluku Utara tidak hanya berkembang, tetapi juga aman dan berkelanjutan bagi masyarakat.
Sumber: RRI Ternate



Tinggalkan Balasan