BPBL Batam Targetkan Panen 1 Ton Lobster Ekspor Lewat Program Modeling Terintegrasi
IGMTV.net – Balai Perikanan Budidaya Laut Batam (BPBL) Batam, Kepulauan Riau, menargetkan panen lobster sebanyak 1 ton berkualitas ekspor pada akhir tahun 2026 melalui program lobster modeling atau pemodelan budidaya terintegrasi.
Kepala BPBL Batam, Ipong Adi Guna, menjelaskan saat ini pihaknya masih fokus pada tahap pembesaran lobster dengan perkiraan panen pada akhir 2026.
“Paling tidak panen 1 ton di akhir tahun. Saat ini kami masih produksi pembesaran, karena pemeliharaan lobster cukup memakan waktu. Untuk distribusi kemungkinan akhir tahun ini, yang jelas program ini berkelanjutan,” katanya saat dihubungi di Batam, Kamis.
Ia menyebutkan bahwa pada September lalu panen perdana lobster yang dihadiri Wakil Presiden dan Menteri Kelautan dan Perikanan berhasil mencatatkan produksi sekitar 1,7 ton.
Meski demikian, target panen berikutnya diperkirakan pada akhir 2026, dengan waktu yang masih menyesuaikan pertumbuhan dan ukuran lobster.
“Perkiraan akhir tahun 2026, bulan belum bisa dipastikan karena menyesuaikan pertumbuhan lobster,” tambahnya.
Saat ini BPBL Batam membudidayakan tiga jenis lobster, yakni lobster pasir, lobster mutiara, dan lobster bambu. Ketiganya memiliki nilai ekonomi tinggi dan permintaan pasar ekspor yang stabil.
Untuk pasar ekspor, Singapura masih menjadi tujuan terdekat. Selain itu, pada 2025 jalur ekspor ke Korea Selatan juga telah terbuka melalui pengiriman udara.
Dari sisi harga, lobster yang dijual mengikuti ketentuan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp360.000 per kilogram. Namun di pasar, harga dapat berfluktuasi hingga mencapai Rp500.000 per kilogram, tergantung pada ukuran dan tingkat permintaan.
“Jika diterjemahkan, 1 ton lobster dapat dijual di kisaran harga Rp360 juta hingga Rp500 juta,” ujar Ipong.
Ia menegaskan bahwa program modeling ini dikembangkan sebagai percontohan agar dapat direplikasi oleh masyarakat, bukan untuk produksi massal dalam skala besar.
“Modeling ini basisnya percontohan untuk masyarakat bisa mereplikasi, bukan produksi massal. Fasilitasnya pun terbatas,” katanya.
Menurut Ipong, di Batam sebenarnya cukup banyak pelaku usaha yang berminat mereplikasi sistem budidaya seperti yang dikembangkan BPBL. Namun sebagian masih terkendala proses perizinan yang belum rampung.
Sebagai informasi, modeling budidaya lobster merupakan metode budidaya terintegrasi yang mencakup proses pendederan benih bening lobster, pembesaran, hingga pengolahan hasil.
Dengan target panen 1 ton pada 2026, BPBL Batam berharap program percontohan ini mampu mendorong tumbuhnya budidaya lobster berkelanjutan serta memperkuat posisi Batam sebagai salah satu sentra perikanan budidaya laut di wilayah pesisir Indonesia.

Berita Terkait
Berita Daerah
Satgas PKH Beberkan Temuan dan Perkembangan Pertambangan di Malut


Tinggalkan Balasan