Ternate – Pemerintah Provinsi Maluku Utara bergerak cepat menindaklanjuti berbagai permintaan warga Batang Dua yang terdampak gempa bumi, setelah Gubernur Sherly Tjoanda Laos dan Wakil Gubernur Sarbin Sehe meninjau langsung titik pengungsian di Kelurahan Mayau, Kecamatan Batang Dua, Kota Ternate, Sabtu kemarin.

Dalam kunjungan tersebut, warga menyampaikan keresahan terkait gempa susulan yang masih terus dirasakan pascagempa magnitudo 7,6 pada 2 April 2026. Mereka meminta kepastian dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai status aktivitas gempa serta jaminan rasa aman bagi masyarakat.

Merespons aspirasi itu, Pemprov Maluku Utara segera menggelar rapat koordinasi bersama BMKG dan Pemerintah Kota Ternate, di Eks Crisan Ternate, pada Senin 13 April 2026. Hadir dalam pertemuan tersebut antara lain Kepala Stasiun Geofisika Kelas III Ternate Gede Eriksana Yasa, Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Babullah Ternate Desindra Deddy Kurniawan, Sekretaris Kota Ternate Rizal Marsaoly, serta Plt Kepala Dinas Sosial Maluku Utara Zen Kasim.

Wakil Gubernur Maluku Utara Sarbin Sehe menjelaskan, ada dua hal utama yang disampaikan warga saat kunjungan lapangan. Pertama, masyarakat meminta penjelasan apakah gempa masih akan berlanjut dan kapan kondisi akan benar-benar aman. Kedua, sebagian warga bahkan mengusulkan relokasi mandiri.

Ia menambahkan, arahan gubernur langsung ditindaklanjuti melalui rapat koordinasi untuk memperoleh informasi detail dari BMKG.

“Kita laksanakan pertemuan itu untuk mendapatkan informasi detail tentang prediksi gempa ada di Batang Dua itu seperti apa,” ujar Sarbin usai pertemuan.

Berdasarkan hasil rapat, BMKG akan menyampaikan rekomendasi tertulis kepada Pemerintah Kota Ternate dan Pemerintah Provinsi Maluku Utara sebagai dasar langkah-langkah mitigasi ke depan.

Sarbin mengatakan, menurut penjelasan BMKG, gempa susulan masih berpotensi terjadi dalam dua hingga tiga pekan setelah gempa utama pada 2 April lalu. Artinya, aktivitas gempa masih mungkin dirasakan hingga pertengahan April 2026, namun kekuatannya tren menurun.

Meski demikian, pemerintah menyampaikan kabar baik bahwa berdasarkan prediksi ilmiah BMKG, tidak terdapat potensi tsunami akibat rangkaian gempa tersebut.

“Kita bersyukur dari sisi prediksi ilmu dan teknologi tadi, diinformasikan BMKG itu tidak ada potensi tsunami. Nah, tetapi kami terus mengimbau masyarakat untuk melakukan ikhtiar maksimal, tetapi jangan juga terlalu takut berlebihan sehingga terjadi keseimbangan di dalam keseharian kita,” katanya.

Sarbin juga menegaskan warga tidak dilarang kembali ke rumah masing-masing, sepanjang merasa aman dan mampu melakukan penyelamatan diri jika sewaktu-waktu terjadi gempa susulan.

“Sebetulnya warga itu tidak dilarang untuk pulang ke rumah, sepanjang dia merasa nyaman dan aman dan bisa menyelamatkan diri, tidak ada masalah untuk pulang ke rumah,” katanya.


Sumber: RRI Ternate